Rabu, 10 Oktober 2012

DARI SECANGKIR CAPPUCCINO

***2012*** 

Sudah pukul dua pagi, aku dan teman-temanku masih sibuk tertawa membahas cerita-cerita klasik kami saat masih duduk dibangku SMA, secangkir cappuccino panas menemani kami menunggu matahari yang tadi sore terbenam, tak ada niat beranjak atau ingin cepat-cepat menuju rumah dan memeluk guling dikamar tidur kami masing-masing, sudah setahun kami tak bertemu, malam ini hanya kami dan secangkir cappuccino yang menemani hingga pagi, menemani kami bercerita, menemani kami tertawa, hingga pagi, ya hingga pagi. Tawaku dan temanku lepas malam itu, kami mulai menceritakan tentang suatu malam yang sama-sama kami alami tentang Rika yang ingin menjadi model dimajalah Playboy, atau Irma yang bercita-cita ingin menjadi seorang Pramugari walau tinggi badannya hanya 155 cm, alasannya hanya karna ingin menjadi istri seorang pilot, semua cerita mengalir begitu saja hingga tak ada jeda waktu untuk menarik nafas. Sementara aku masih tetap dijalurku, ingin Kuliah di Chelsea University of London, Inggris. agar bisa menyaksikan tim sepak bola favoritku berlaga di liga champion. Seakan tak pernah habis, cerita kami masih terus berjalan bagai air gunung yang mengalir lepas dicekungan-cekungan sungai angan yang kami buat sendiri, laut yang kami tuju masih terlalu jauh dan kami selalu berdoa agar bisa berpijak disebuah samudra yang sama, Samudra Kesuksesan untuk menggapai apa yang kami mau. Harapan kami besar dan kami berusaha mengejar itu semua. Saat ini kami masih sibuk menertawakan cita-cita masing-masing, dengan gelinya kami memikirkan hal-hal yang kami sepakati itu lucu dan wajar ditertawakan. 

Lalu aku menceritakan kembali tentang makanan penutup saat kami berada di salah satu Mc Donald’s favorit kami dibundaran Alam Sutra. Rika yang duduk disamping kananku meneguk cappuccino yang sebelumnya ia tiup sambil tersenyum malu bagai seorang ratu keraton Tegal, pipinya berubah jadi merah seketika. Sebuah katalog yang baru saja dikeluarkan Rika dari tasnya tergeletak dimeja makan persis didepanku. Jam dinding yang menempel ditugu berwarna coklat kemerahan itu berjalan lambat, malam ini akan menjadi malam terakhir yang sangat berkesan untukku bersama dua orang sahabat terbaikku sebelum kembali meninggalkan kota kelahiranku ini. Masih ada waktu empat jam sebelum pesawatku meninggalkan Bandara Soekarno Hatta, Tangerang.  


***2010*** 

Rika dan Irma memintaku memesan makanan, sementara mereka mencari kursi kosong yang masih tersisa. Aku pun segera menghampiri salah satu station yang masih melayani pengunjung. 
“Silahkan, mau pesan apa?” tanya seorang pria yang berdiri dibalik meja, tepat didepanku berdiri dengan seragam merahnya yang mencolok. 
“Saya pesan tiga paket hemat ya mas” kataku sambil melirik beberapa menu yang terpampang didinding atas station penjualan itu. 
“Tiga paket hemat. Ada lagi?”
 “Ada hot cappuccino gak mas?” 
“Mau pesan berapa?’ 
“Tiga ya mas” 
“Ada lagi pesanannya?” 
“Udah cukup itu dulu mas” 
“Baik, silahkan ditunggu lima belas menit ya” senyumnya. Aku langsung menuju ke tempat dimana kedua sahabatku sudah duduk manis diteras tempat makan siap saji Amerika itu. 
“Udah pesanin buat gw juga?” tanya Rika begitu melihatku. 
“Udah, gw juga udah pesan cappuccino kesukaan kita” jawabku. 
“Asik-asik ada cappuccino” sambut Irma girang. 
“Paket hemat juga udah gw pesan tiga, tenang aja lu” lanjutku. 
“Sering-sering aja lu balik, hidup gw berdua pasti makmur. hahahaha” kata Rika sambil tertawa. Kami diam sesaat, Irma dan Aku sibuk memperhatikan Blackberry masing-masing. 
“Silahkan pesanannya, tiga paket hemat dan tiga cappuccino. Ada lagi?” seorang priaberbaju merah menghampiri kamu, dari raut wajahnya bisa ditebak usianya kira-kira 20 tahun. 
 “Iya, udah semuanya. Makasih ya mas” jawabku sambil tersenyum. Rika meletakkan cappuccino hitam itu didepanku lalu meneguk cappuccino nya, terpaan angin malam membuat cappuccino itu tampak sangat ingin dijamah, lalu kuteguk secangkir cappuccino yang masih hangat itu, hanya seteguk dan kuletakkan kembali. Tidak membutuhkan waktu lama tiga paha ayam dan nasi itu sudah bersih dari meja makan kami, beberapa percakapan kecil menemani kami melahap sedikit demi sedikit sarapan dini hari itu. 
“Kenyang gw” kata Rika sambil mengusap perutnya. 
“Sama gw juga” jawabku. 
“Oya Feb, lu rencananya mau lanjut kuliah dimana tar klo udah lulus?” tanya Irma padaku. 
“Masih setahun, ngapain dipikirin sekarang?” jawabku. 
“Harus dong, biar ada persiapan” bantah Irma. 
“Klo lu bedua mw kemana?” aku balik bertanya 
“Gw ga ngelanjutin kuliah” lalu Rika tertunduk sedih. 
“Kenapa Ka?” tanyaku. 
“Karna gw mau jadi model majalah Playboy. Hahahahhaa” lalu ia tertawa. 
“Ahh dasar kuda lu, gw kirain lu mellow beneran” cetus Irma. 
“Serius klo yang itu, gw mau jadi model majalah playboy” ucapnya. Aku melihat raut wajahnya yang seolah meyakinkan bahwa ia benar-benar ingin menjadi seorang model disalah satu majalah pria dewasa yang sangat terkenal di dunia itu. Dan keseriusannya itu yang membuat kami tak bisa menahan tawa. “hahahahaha,,, cita-cita lu aneh tau gak Ka?” olok Irma 
“hahaha,,, cita-cita sih boleh aja, tapi ga gitu-gitu juga” timpalku. 
“Bodo, suka-suka gw dong. Trus masalah buat loch bedua?” membela diri. Aku dan Irma tak bisa berhenti menahan tawa hingga perutku terasa sakit. Satu hal yang menggelikan, seorang wanita campuran Padang dan Sunda ingin menjadi model majalah pria dewasa. 
“Klo lu Ma? Mau lanjutin kemana?” tanyaku pada Irma yang masih memegang perutnya. 
“Gw? Klo gw sih pengen jadi pramugari biar bisa dapet suami pilot” jawabnya polos. 
“Hahahahaha,,, pramugari pesawat kurcaci?” balas Rika. Aku tak bisa menahan kegelian untuk kedua kalinya, kali ini benar-benar hal yang luar biasa konyol bagiku hingga membuat aku dan Rika tertawa terpingkal-pingkal. 
“Lagian mana ada pramugari kemayu kayak lu. Hahahaha” olokku. 
“Eh, tar gw dapet predikat pramugari terimut didunia baru tau lu bedua” 
“hahahaha… yang ada lu dapat predikat pramugari mini” tambah Rika. Seketika tawa kami pecah hingga tidak menyadari beberapa mata memperhatikan kearah kami, hal itu menjadi tidak penting lagi bagi tiga orang sahabat yang urat malunya sudah tidak utuh lagi. Suasana malam yang penuh dengan tawa lepas seolah tak mau berakhir sampai disitu. 

Aku meneguk cappuccino yang sudah mulai dingin itu, rasanya manis dengan campuran rasa caramel membuatnya terasa begitu segar. 
“Perasaan tadi gw nanya lu deh Feb” ucap Rika. 
“Iya Feb, lu mau kemana? Apa mau jadi model playboy juga kayak Rika? hehehe” 
“Udah Feb, jadi pramugari aja, cocok lu bedua jadi pramugari pesawat kurcaci. Hahaha” 
“Lu kok ngeselin amat Ka? Mentang-mentang tinggi lu, menindas dua kalu kurcaci” dan kami pun tertawa bersama. 
 “Gw mau ambil jurusan Design, Chelsea University of London, Inggris” jawabku. 
“Cie elah yang suka sama klub Chelsea”
 “Dia pengen punya pacar kayak Terry kali Ka?” 
“Pengen cari bule dia” 
“Iya, yang jelas ga cari pilot kayak lu” 
“Tu kan gw lagi yang kena” Aku kemudian tersenyum melihat kedua sahabatku seperti ibu-ibu arisan yang menggosipkan suami tetangga yang ganteng dan badannya kotak-kotak. Yang terlintas dipikiranku hanya satu, aku akan berkumpul bersama mereka kembali, disini, bukan sebagai seorang anak sekolah kelas 12 yang menghabiskan malam minggu untuk menunggu pagi. Tapi sebagai seorang Model, Pramugari dan Seorang Lulusan Design di Chelsea University of London. 
 “Udah-udah jangan berantem, tos dulu kita, suatu saat kita bakal ketemu lagi sebagai orang sukses” aku mengangkat cangkir cappuccino yang ada didepanku, diikuti Rika dan Irma. 
“TOS” 
Malam itu akan menjadi malam yang tak terlupakan untuk tiga sahabat yang punya cita-cita besar. Tawa dan canda mereka akan menjadi kisah tersendiri bagiku, dan akan kusimpan ditempat yang paling indah dalam kisah masa SMA yang aku lewati saat itu. Suatu saat saat aku membuka kembali kisah itu, semua orang akan memperhatikan kearahku dan menjadi pendengar setiaku.  


***2012*** 

 Sinar kemerahan mulai muncul dicelah-celah pepohonan, lampu-lampu taman mulai dimatikan, terdengar suara burung dibalik pepohonan rindang, pertanda fajar telah mulai menyingsing. Pesawatku berangkat pukul 07.00 wib, tiga puluh menit lagi, aku harus mengucapkan selamat tinggal pada teman-temanku. Cerita semalam adalah sebuah perpisahan yang layak menurutku, tawa yang lepas dan tak ada kesedihan sama sekali, memang itu yang aku mau. 
“Udah waktunya gw berangkat ni” ucapku. Terlihat raut wajah haru yang tak bisa mereka tutupi bahkan aku juga tak bisa menutupi keharuan itu, aku harus meninggalkan sehabatku, lagi. Dan aku memang harus meninggalkan mereka demi satu hal yang sangat pantas untuk dicapai. Sebuah taxi blue birth merhenti didepan kami bertiga, aku langsung memeluk kedua temanku, matak yang sedikit berkaca-kaca mengiringi langkahku memasuki taxi biru itu.
 “Sampai ketemu setahun lagi, disini” ucapku.
 “Siap, setahun lagi disini” ucap Rika. 
“Jangan lupa salam buat Jhon Terry” lanjut Irma.  
“Kita bakal rindu banget sama lu Feby” ucap Rika 
“Gw juga pasti bakal rindu banget sama lu bedua” 
“Jangan lupa telpon kita ya” 
“Pasti” jawabku, lalu taxi itu berangkat, meninggalkan kedua temanku dengan senyum lebar diwajah mereka. Aku memperhatikan kesebelah kananku, lampu taman yang baru saja dimatikan namun sebuah lampu sorot masih menyala di sebuah tulisan berwarna emas ALAM SUTRA Aku tersenyum kecil, “Aku akan kembali, pasti” gumamku perlahan. 

Sebuah lambaian tangan mengantarku berlalu bersama taxi biru itu, satu hal yang membuatku merasakan sebuah kebahagian adalah saat mengetahui banyak hal yang berubah, baru kemarin kami punya cita-cita yang besar, dua tahun lalu Rika mengatakan ingin menjadi Model di salah-satu majalah dewasa, kini ia mendapat apa yang ia mau. Menjadi seorang model busana disalah satu majalah yang cukup terkenal di Indonesia dan ia menikmati itu. Sementara Irma, ia sangat ingin menjadi seorang pramugari namun karna postur tubuhnya yang tidak memungkinkan sehingga ia gagal masuk sekolah penerbangan. Satu hal yang membuat ia tak pernah menyesali kegagalannya adalah bertemu sosok Rico, teman sekelasnya saat ia kelas tiga SMA, setelah lulus SMA Rico masuk disekolah penerbangan dan kini ia adalah sebagai Pilot disalah satu maskapai yang cukup terkenal didunia, rencananya tahun depan mereka akan segera menikah. Dan aku, Feby Octaviani. Aku akan kembali ke Inggris untuk melanjutkan studyku di Chelsea University of London. Ternyata menyaksikan liga champion di Stamford Bridge itu menyenangkan. Apa lagi saat Jhon Terry dan Lampard langsung dari pinggir lapangan. Hal yang tak pernah terbayangkan selama ini. 

***TAMAT***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar